Sakura Untuk Gina

Sakura Untuk Gina

Selalu, Gina tersenyum renyah menatapku dan sedikit memperlihatkan deretan rapi gigi putihnya. Bergerak kearahku diantara himpitan penumpang lain yang juga berdiri. Berhenti tepat disamping tempat duduk yang kupakai dan sekali lagi tersenyum, senyum yang sangat kusuka. Kubalas senyumnya dan spontan ku berdiri lalu dengan isyarat tangan mempersilahkan dia menggantikan tempat duduk ku. Dijawab dengan isyarat penolakan halus untuk membiarkan ku tetap duduk, disusul suara cukup indah dari mulut mungilnya, sangat indah menurut ku,”Gak usah repot mas sudah resiko berdiri kalo naik bis kota yang penuh, lagian kan mas belum lama duduknya, entar aja kalo dah nyampe Cicaheum baru gantian“. Seperti sudah lama akrab ujung kalimatnya yang berisi candaan seolah membuat ku merasa betah naik bis kota. Angkutan yang sebelumnya paling benci kunaiki karena selalu identik dengan sesaknya penumpang dan rawannya copet. Akhirnya mau juga Gina duduk menggantikan tempatku setelah aku setengah memaksa mempersilahkan dia duduk. “Terima kasih mas jadi gak enak nih” Disusul dengan kalimat merdu lainnya,” Eng, korannnya boleh aku baca kan“?. Yes, hatiku bersorak pada kalimat terakhir yang kutunggu dan sudah kuduga. Kuserahkan koran yang sebenarnya belum sempat kubaca. Melirik pada ku sebentar disertai senyum renyahnya, lalu tenggelam dan asik menikmati baris demi baris berita dan informasi hari ini. Dan aku tentu saja bisa puas mengamati, memperhatikan dan pastinya menikmati keelokan tubuh mungil berjilbab putih dibalut sweater hijau muda yang serasi dengan celana jeans yang sedikit kusam. Sepatu kasual berbahan kanvas yang dipakainya sudah cukup menyatakan Gina adalah gadis enerjik dan mungkin sedikit lincah. Itu hanya penilaian subjektif ku.

Yap, baru dua hari aku bisa yakin gadis yang sedang asik membaca koran pagi miliku ini bernama Gina, Ginalia Meidiawati lengkapnya, setelah kemarin aku sempat berkenalan saat bisa diduduk disampingnya menggantikan penumpang sebelumnya yang kebetulan turun. Walau pertama kali bersamanya dalam bis kota aku sudah menduga namanya Gina. Secara tak sengaja kulihat tulisan kanji di tas punggungnya yang saat itu belum yakin maknanya. Dan sambil kerja ku manfaatkan fasilitas komputer kantor untuk iseng mencari tahu arti tulisan kanji itu, ya tulisan berbahasa jepang itu hanyalah kalimat sederhana, “namaku Gina, mau tau lengkapnya ya tanya saja“. Aku bersorak kegirangan di depan monitor sampai teman kerja ku Yasir mengumpat dan geleng-geleng kepala atas tingkahku. Dan ketika kemarin ada kesempatan langka untuk duduk disampingnya langsung saja kugunakan dengan efektif untuk lebih mengenalnya. Bahkan kugunakan jurus pamungkasku yang tepat kesasaran. Bukan dengan basa basi penuh kalimat permintaan yang mendayu. “Eh, Gina yah, perkenalkan aku Ahmad, Ahmad Elkatomsy“, kataku penuh percaya diri. Sejenak dia terkejut, “eh kok tahu….jangan-jangan..!!” berhenti dan tertawa kecil ketika melihat telunjuk ku mengarah pada tas punggung yang kini berada diatas pahanya. Akhirnya seperti teman lama aku dan Gina jadi sangat akrab, apalagi dia kelihatan kagum atas kemampuanku mengetahui namanya. Dan bagiku sungguh Gina yang ternyata sedang kuliah tingkat akhir jurusan sastera Jepang itu seperti sosok baru yang menggantikan sosok Pika mantan pacarku yang matre sekaligus posesif yang telah dua bulan putus. Kuputuskan sebenarnya karena bukannya kebahagiaan yang kudapat dengan punya pacar cantik plus tubuh semampai dan bermasa depan cerah, namun kerepotan karena waktuku habis hanya untuk sekedar membalas sms atau ngobrol seputar nama makanan yang harus kumakan agar sehat. Belum harus selalu siap jika dia minta diantar shoping atau sekedar hangout di mall bahkan aku harus rela jadi kambing congek bila dia sedang membahas mantan-mantan pacarnya yang katanya ganteng-ganteng dan anak orang kaya. Bos ku malah sempat menegur aku karena terlalu sering aku ngobrol di handphone saat kerja. Dan saat aku akhirnya memutuskan Pika, lega rasanya hatiku walau banyak teman yang menyayangkan atas keputusanku. Termasuk Pika yang marah besar dan mengancam akan melakukan sesuatu yang akan membuat ku menyesal karena memutuskannnya. Namun keputusanku sudah bulat, dan aku gak perduli karena aku yang merasakan tersiksanya punya pacar yang bernama Pika.

Minggu yang mengejutkan sekaligus menyenangkan dan tak terduga, apalagi baru seminggu ini aku merasakan naik bus kota. Setelah mengalami minggu-minggu yang menyiksa bersama Pika, dua minggu yang lalu aku terserempet angkot waktu naik motor berangkat kerja, beruntung aku hanya mengalami luka kecil di tangan dan lutut akibat jatuh ke trotoar, hanya motorku yang mengalami kerusakan cukup parah. Cukup dua hari aku gak masuk kerja, namun karena tanganku masih terasa sakit dan motorku masih di bengkel aku berangkat kerja tidak bawa motor. Awalnya aku naik angkot ke tempat kerja, namun rute yang jauh dan mesti tiga kali ganti menyebabkan aku memutuskan mencoba naik bus kota. Selain rutenya lurus dan lebih dekat ke tempat kerjaku juga aku tak perlu naik turun ganti kendaraan. Hanya tambahan naik ojek sebentar. Dan hari pertama naik bus kota adalah hari pertama aku bertemu Gina, secara tak sengaja tentunya. Aku naik dari halte Kosambi daerah tempatku kos sedangkan Gina dari halte Cicadas dekat supermarket yang berjarak sekitar tiga kilometer. Kebetulan aku selalu mendapat tempat duduk karena di halte Kosambi penumpang belum begitu banyak, memasuki halte Cicadas barulah penumpang mulai berjejal. Mataku langsung terpana begitu melihat gadis mungil berjilbab yang rela berdesakan untuk sekedar berdiri di jalur dengan tubuh sedikit menyandar pada sandaran kursi yang kududuki. Tentu saja sebagai lelaki walaupun aku berhak untuk terus duduk, naluriku mengatakan untuk mempersilahkan gadis yang kutaksir umurnya lebih muda empat tahun dariku itu. Seperti hari ini awalnya dia menolak. Yang membuatku terkesan adalah ketika secara sembunyi-sembunyi kulihat matanya memperhatikan koran yang kupegang, koran yang sengaja ku beli sebagai penawar kejenuhan di bus. Lagi-lagi naluriku mengatakan untuk mempersilahkan dia membaca koran miliku. Toh tak rugi karena dalam posisi berdiri aku sendiri gak bisa membacanya. Rupanya dia hobi membaca terutama membaca berita-berita yang berhubungan dengan berita sosial politik, kutahu setelah aku memberanikan sedikit berbasa-basi. Agak kagok juga pertama meminta koran yang sedang dibacanya ketika aku harus turun duluan karena tujuanku telah sampai. Namun dia dengan ramah dan tentu saja dengan senyum manisnya menyerahkan koran itu ketika aku berteriak berhenti pada kondektur. Hari-hari selanjutnya sungguh menjadi hari yang indah dan kutunggu agar aku bisa bareng naik bus kota. Sungguh beruntung dalam seminggu ini termasuk hari ini aku telah empat kali bisa berdekatan dengan Gina. “Eh mas Ahmad, udah hampir sampai tuh!, nich korannya dah Gina beresin, makasih yah!” ufs, aku terkejut, mengambil koran yang disodorkan Gina, dengan senyumnya yang tetap menawan. Kutatap matanya sekilas, kulihat ada sorot harapan. Entahlah mungkin perasaanku saja. Namun itu sudah cukup memantapkan tekadku untuk terus bisa berkenalan lebih dekat dengannya, sukur-sukur bisa menjadi calon suaminya kelak, calon pacar tepatnya. Bah, langkahku terasa ringan dan semangat ku bangkit lagi. Hanya otakku terus berpikir agar aku bisa lebih dekat dengan Gina. Aku bersiul riang sehabis makan siang di kantin ketika benakku menemukan solusi yang kupikir tepat.

Senin yang cerah secerah hatiku memandang jalanan pagi yang cukup sibuk dengan lalu lalang pengguna jalan. Sengaja aku berangkat kerja lebih pagi dari biasanya karena aku takut kesempatanku hilang begitu saja. Tetangga kosku malah sempat bercanda karena gak biasanya aku pagi-pagi buta sudah rapi. Motor empat langkah yang masih gesit dan trengginas walau bukan baru, lincah melaju disela-sela angkot, bus kota dan pengguna motor lain. Tidak berapa lama aku sampai pada halte bus yang kutuju, halte dimana Gina naik bus kota. Berhenti dan mataku aktif mencari-cari gadis berjilbab yang telah membuat ku semalaman gak bisa tidur. Nihil, kulirik jam tangan ku dengan perasaan khawatir takut salah waktu. Masih kepagian, hiburku sambil terus memperhatikan calon penumpang yang akan naik bus kota. Sepuluh menit yang terasa seperti berjam-jam dengan pikiran yang masih terus berharap didepan ku ada gadis berjilbab yang tersenyum ramah. Hingga tiba-tiba dari arah belakang dan kini telah berdiri disampingku ada suara yang ku kenal menyapa lembut tapi sangat mengejutkanku,”Eh mas Ahmad, tumben naik motor, dah sehat yah?. Kulirik sejenak meyakinkan pada sebuah wajah yang kukenal, lalu membalas sapaannya,”Eh Gina, Ohaiyo!! iya nih sudah baikan agaknya. “Sengaja aku ingin mengajak kamu bareng, arah kita kan sama mungkin aku bisa mengantarkan kamu ke kampus, itu juga kalo tidak keberatan….”. Belum sempat aku meneruskan mulut mungilnya sudah keburu bersuara, lembut bagiku. ” Pagi juga mas, aduh pake basa Jepang segala dah jago rupanya, eng.. aku dah biasa naik bus kota, gimana yach!!?”. ” Please…. masa kamu tega nian Gin, bareng yach !!!” bujukku kemudian. “Oke dech..tapi aku merasa berdosa sama kondektur yang selalu meminta ongkos nich…!!”candanya sambil naik juga ke motor ku. ” Gak papa deh entar aku bilangin sama abang kondekturnya,” jawabku sambil perlahan mulai melepaskan kopling. Sengaja motor ku tetap dalam laju yang gak terlalu cepat agar aku bisa ngobrol dengan Gina, minimal bisa berbasa-basi dan lebih mengakrabkan diri. Dan yang tak kusangka akhirnya aku bisa sedikit menanyakan hal yang cukup membuat ku sejenak takut akan jawabannya. “Eh pacar kamu orang mana sih?” pancingku. “Ih kok nanyain gitu, kan pacarku orang Kosambi, Gak mas lagi belum mikirin pacar ah…, lagian kebanyakan cowok sekarang kalo sudah jadi pacar pengennya macem-macem, kapok ah mas!” jawabnya sambil tak sadar mencubit pinggangku. Bukan cubitannya yang membuat hatiku berbunga, jawaban lugunya yang membuat aku memendam harapan besar. Harapan yang menghantuiku selepas hilangnya Pika. “Mas sendiri gimana, pacarnya orang mana?” pertanyaan yang mengejutkan ku untuk sebentar. “Lagi jomblo Gin, aku gak laku-laku nih. Lagian siapa yang akan tertarik dengan cowok kampung seperti aku” jawabku kemudian. “Ah, laki-laki emang selalu gombal….” tak melanjutkan ucapannya sebab motor ku sudah berhenti tepat di depan gerbang kampusnya. Gina turun dari motorku,”terima kasih mas Ahmad” katanya sambil bersiap memasuki gerbang kampusnya. “Gin, kataku perlahan namun cukup menghentikan langkahnya dan menatapku.”Kalo gak keberatan pulangnya bareng lagi yah, jam berapa kamu pulang?, “Eng… jam empat sore mas, sebenarnya kuliah beres jam dua ,kebetulan aku ada kegiatan dulu di kampus.”Tapi gak usah merepotkan mas, aku jadi gak enak. “Aku juga pulang jam empat, awas ya nanti aku jemput disini!” jawabku sambil berbalik tak memperdulikan jawabannya lagi. Tak kuperdulikan suara suit-suit teman Gina yang tampak iri atau mungkin sekedar bercanda. ” Aduh Gin, tumben sekarang diantar sama pangeran berkuda, siapa tuh?” terdengar suara cempreng cewek yang mungkin temannya Gina. Sambil tersenyum penuh kemenangan aku berbalik arah belok masuk jalan by pass menuju pabrik tempat ku bekerja.

Pulang kerja langsung kupacu motorku menuju kampus tempat Gina kuliah. Beruntung hanya beberapa menit menunggu, Gina dan teman-temannya kelihatan keluar gerbang kampus dan tanpa pikir panjang aku langsung menghadang dengan motorku. Mulanya Gina kelihatan seperti ragu menerima ajakanku. Namun atas perjuangan tak patah semangat yang ku perlihatkan dan juga perlakuan teman-temanya yang seperti mendukungku akhirnya aku berhasil juga membonceng bidadari impianku. Sengaja aku tidak langsung menuju ke rumahnya Gina, tetapi kubelokan dan berhenti di sebuah kantin kecil tempat aku menghabiskan sebagian waktu luangku jika sedang jenuh. Dua gelas jus jeruk yang kupesan rupanya telah memberikan banyak cerita menyenangkan antara aku dan Gina. Mulai dari cerita masa kecil Gina yang sangat memimpikan melihat langsung salju Fujiyama, ingin melihat langsung desa-desa pertanian di Jepang, sampai pada keinginannya untuk melihat bunga sakura bersemi. Itulah sebabnya selepas SMA ia memilih jurusan sastera Jepang. Cerita tentang hobi dan kecintaannya pada alam sehingga dia dikampusnya aktif mengikuti kegiatan pecinta alam seperti yang telah ia lakukan siang tadi selepas jam kuliahnya. Lebih dari dugaanku, gaya bicara Gina yang menarik lebih menguatkan tekadku untuk mendapatkanya. Hampir menjelang maghrib barulah aku dan Gina pulang. Gina pun mempersilahkan ku untuk masuk rumahnya dan berkenalan dengan keluarganya. Sungguh keluarga yang bahagia walupun kehidupannya sederhana. Ayahnya yang hanya pedagang sayur dipasar dan ibunya sebagai ibu rumah tangga biasa mampu mendidik dan membentuk seorang Gina menjadi gadis mandiri yang sangat ku kagumi serta kedua adiknya yang masih SMA dan SMP yang kebetulan lagi ada dirumah sangat ramah menyambutku. Sungguh keluarga yang sangat ku kagumi.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penuh keceriaan dan bermakna dalam hidupku. Walau pasti ada perbedaan namun ternyata lebih banyaknya persamaan antara kami berdua telah menjadikan kedekatan yang sangat menyenangkan. Apalagi setelah dalam satu kesempatan di kantin langganan ku Gina menerima permintaanku untuk jadi pacarnya. Lengkap sudah kebahagiaan ku, bahkan aku sudah punya rencana untuk memperkenalkan Gina pada orang tuaku di kampung. Atau bahkan meminta ijin pada orang tua untuk melamarnya. Sungguh aku sudah menemukan apa yang ku inginkan pada diri Gina. Begitupun keluarga Gina sudah sangat dekat dengan ku. Ayahnya tidak pernah menuntut apa-apa selain agar aku selalu menjaga kepercayaan dan tanggung jawab sebagai lelaki yang masih belum ada ikatan pernikahan dengan Gina. Amanat yang selalu ku jaga selain karena Gina termasuk gadis yang taat beragama juga karena sedikitnya aku pernah mengecap didikan di pesantren pimpinan almarhum KH. Zaenal Hambali di kampungku. Walau kadang hasrat selalu ada selama hidup di kota besar namun selama ini kekuatan imanku masih bisa membendung beragam godaan yang muncul.

Tiga minggu menjelang rencana lamaran dan pertunangan aku dengan GIna adalah menunggu hari-hari yang mendebarkan dan terasa menyiksa, selain karena bergejolaknya berbagai perasaan dalam hatiku menunggu hari yang kunanti namun sesungguhnya yang sangat menyiksaku adalah aku dua minggu ini tidak bisa menghubungi Gina walaupun hanya lewat telepon. Bukan karena Gina atau keluarganya melarang, namun kebetulan Gina sedang mengikuti kegiatan pecinta alamnya dan menurutnya akan melakukan pendakian di sebuah gunung di Jawa Tengah. Dan akan selesai dan pulang kira-kira seminggu sebelum kami bertunangan. Bahkan sebelum berangkat dia berjanji akan membawakan bunga edellweis untuk ku sebagai oleh-oleh dan sebagai lambang cinta abadi kami. Sungguh aku merasa tersanjung atas niatnya. Dan tanpa ku katakan sungguh aku akan menabung untuk bisa mewujudkan impiannya melihat langsung salju di Fujiyama dan akan kupetikan bunga sakura untuknya. Aku hanya bisa memabayangkan hal-hal indah kenangan bersama Gina untuk mengusir rasa jenuh menunggu hari yang cukup sakral bagiku. Benar-benar hari yang terasa hampa tanpa kehadiran sosok maupun suara lembut dan renyah Gina. Hanya alunan lagu-lagu melankolis yang menemaniku di kamar kos ku yang terasa sempit. Bahkan koran pagi yang biasa kulahap habis sembari menunggu tidur tak pernah ku sentuh. Hanya sekali aku begitu bersemangat mengangkat dering telepon genggam sebab kukira Gina menghubungiku, namun perkiraanku meleset. Ternyata Pika mantan pacarku yang menelopon dan memohon maaf atas sikapnya serta mengharapkan kembali menjadi pacarku. Hanya kujawab singkat dengan mengatakan bahwa aku sudah punya pacar dan akan bertunangan. Tak kutanggapi lagi kata-kata selanjutnya yang diiringi tangisannya yang sungguh tak akan merubah keputusanku. Hanya kutegaskan padanya bahwa aku dan dia sekarang hanya berteman dan langsung kututup pembicaraan yang tak bermutu ini. Bahkan kumatikan telpon genggamku karena rupanya dia tidak bosan menelpon.

Akhirnya walau terasa lama jadwal hari kepulangan Gina dari kegiatan pendakiannya datang juga. Sengaja Rabu ini aku tidak masuk kerja karena bermaksud ke rumah Gina untuk menyambut kedatangannya. Namun telpon ku tidak mendapat sambutan Gina begitupun ketika kucoba nelpon keluarganya hanya nada sibuk atau suara operator yang kudapatkan. Hatiku sedikit resah namun kukira hanya perasaanku yang memang sedang rindu ingin bertemu. Tak menunggu lama menjelang siang yang cerah aku langsung memacu tungganganku melesat menuju rumah Gina. Tak lupa mampir dulu ke toko bunga untuk membeli sekuntum bunga buat Gina. Sengaja ku beli bunga yang kecil selain karena aku risih membawa buket bunga yang besar dalam motor, bunga yang kecil bisa kusembunyikan dibelakang jaket dan akan jadi kejutan buat Gina. Tak berapa lama kemudian aku sudah sampai pada halaman rumahnya. Tak biasanya kulihat kerumunan orang begitu banyak memenuhi halaman rumahnya, bahkan kulihat banyak teman Gina yang datang. Dan yang membuat lebih heran kulihat wajah-wajah sembab disana, tak ada kecerian seperti bayanganku kalau ini merupakan acara penyambutan. Dengan tergesa aku menyerobot masuk rumahnya, hanya pandangan heran dan tak kumengerti maknanya dari orang-orang yang melihatku. Didalam sudah penuh sesak, akhirnya kulihat Ayah Gina sedang duduk tepekur, kulihat ibunya dan dua adiknya sedang menangis berpelukan. Aku heran dan mulai timbul berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hati. Aku berfikir jangan-jangan…. dan pandanganku akhirnya tertuju pada sebuah tubuh yang terbujur dengan tertutup kain putih. Pikiranku tambah kacau, entah apa yang harus kulakukan. Bertanya pada orang yang ada, bertanya pada Ayahnya, atau ku lihat sendiri siapa yang terbujur didepan ayahnya Gina.

Belum sempat otakku berpikir untuk melakukan apa yang akan kulakukan selanjutnya, tiba-tiba sebuah tangan lembut namun terasa kuat memegang pundakku. Kulirik ternyata om Husni pamannya Gina. Dengan mukanya yang jernih walau sekilas kelihatan ada raut muram dia berkata dengan suara pelan,”Nak Ahmad, mohon sabar dan dengarkan dulu kata-kata om, sebelumnya kami mohon maaf dulu karena belum memberitahumu karena kabar ini begitu mendadak“. Berhenti sebentar kemudian melanjutkan,” Kami semua sangat bersedih dan merasa kehilangan, namun kami sadar bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah, kita manusia hanya berencana dan takdirlah yang menentukan, Rupanya Allah berkehendak lain, rombongan pendakian termasuk Gina tersesat dan terjebak jatuh pada sebuh jurang. “Mereka ditemukan tiga hari kemudian dalam keadaan kritis dan pingsan, hanya Gina yang mungkin kondisinya lebih lemah dan sebenarnya dulu waktu kecil pernah mengidap asma tak bisa diselamatkan….bersabarlah nak Ahmad….,”,suaranya mulai terisak. Tak kudengar lagi suara om Husni selanjutnya yang berusaha menghiburku, kakiku goyah, mataku nanar,.. samar-samar kulihat bayangan salju menghampar menyelimuti puncak Fujiyama dimana aku dan Gina sedang berpegangan melihatnya, samar-samar bermunculan bunga-bunga sakura yang indah mengelilingi aku dan Gina. Kupetik sekuntum bunga dan kusembunyikan dibelakang punggungku, kulihat Gina tersenyum menatapku ketika dengan cepat kuselipkan sekuntum bunga di telinganya. Tiba-tiba senyumnya terhenti ketika salju di puncak Fujiyama luruh, ketika semua sakura disekeliling kami luruh berjatuhan…. bersamaan luruhnya hati dan tubuhku. Kurasakan sesaat tangan-tangan yang memegangku sebelum akhirnya hanya kegelapan yang menyelimutiku……….. (c) awal juni 2010, saat aku merasa terlalu tua untuk menulis puisi bertema cinta di hari ulang tahunku…

buat gadis berjilbab yang pernah menemani hari-hari sesaknya naik bus kota dan baca koran bersama seakan kita teman akrab, sungguh aku terlalu penakut untuk sekedar tahu namamu.
pertama kali diterbitkan hanya di facebook. ARIGATO GOZAIMASTA….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: