Berhenti…kalian di tangkap.. (sebuah kisah kecil bersama teman sekerja)

Sebuah pengalaman nyata bersama teman-teman sekerja, sekedar renungan dan mudah-mudahan ada teman yang terlibat dalam kisah ini bisa membacanya.
Sebuah cerita nyata dengan sedikit tambahan gaya cerita agar tidak terlalu monoton, mengambil istilah bang Sanusi Din, untuk dibaca sambil merehatkan minda…
Semua nama yang terlibat memakai nama panggilannya saja, sengaja nama aslinya saya samarkan, nama panggilan yang sebenarnya sebagaimana saya dan yang lain memanggilnya dalam keseharian. Dengan cerita ini semoga saya bisa bertemu lagi dengan mereka semua.

Berhenti…kalian di tangkap..
(sebuah kisah kecil bersama teman sekerja)

Peristiwa ini sungguh dialami bersama tiga teman-teman lama saat saya bekerja di sebuah perusahaan Manufacturer of Laboratory and Educational Equipment di Kota Bandung, terjadi beberapa tahun yang lalu. Saya termasuk paling junior diantara teman-teman sekerja saat itu, mungkin saya baru bekerja sekitar dua tahunan,  sedang teman-teman saya rata-rata tiga sampai lima tahun lebih dulu bekerja. Kebetulan mereka boleh dikatakan bekerja di bagian yang sama dengan saya yaitu bagian Mesin, hanya satu yang beda bagian yaitu sebut saja Ojeng, (nama aslinya dirahasiakan) begitulah ia dipanggil oleh kami sebagaimana keluarganya sering memanggil itu, seorang teman asli dari Lembang, Kabupaten Bandung.Kebetulan Ojeng nge-kost serumah dengan saya, walaupun tiap minggu ia pulang ke rumahnya di Lembang. Saya tahu nama panggilan dari keluarganya karena semenjak ia kost atau ngontrak rumah dengan saya, sering sekali saya ikut ke rumahnya di Lembang. Ojeng ini bekerja dibagian QA / QC( Quality Assurance).Kabar terakhir ia telah menikah dengan orang Cipadung, walaupun saya belum pernah bertemu lagi selepas resign dari kerja.

Ari Black, adalah teman dekat saya yang berasal dari Madura, dengan gaya sedikit urakan, menyandang ban kuning Tae Kwon Do pada saat itu. Terakhir teman saya yang sebaya dan hanya beda setahun bekerja adalah Asgum Cadas, walau badannya tidak sebesar Ari Black tapi sungguh ia boleh dikatakan paling berani dan cukup ditakuti teman-teman yang lain, maklum ia asli Cicadas Bandung, daerah yang terkenal dengan preman-premannya saat itu. Dan dengan mata kepala saya sendiri saya pernah melihat ia (Asgum) menjatuhkan seorang teman kerja yang bertengkar dengannya dengan hanya sekali pukul. Sedangkan saya boleh dikatakan hanya seorang junior dari kampung yang belum bisa memperlihatkan apa-apa untuk di banggakan, hanya karena berteman dekat dengan mereka boleh dikatakan hidup saya aman dari gangguan teman sekerja atau orang lain yang kadang suka bikin ulah di perantauan. Saya hanya dipanggil dengan julukan atau nama panggilan yang sedikit mengecilkan yaitu si Tasik, karena kebetulan saya perantau yang berasal dari Tasikmalaya. Paling keren saya kadang juga dipanggil Ustadz Kresek, karena kebetulan daerah asal saya adalah daerah santri dan saya sering memakai peci dan sarung dalam keseharian di tempat kost. Kresek adalah istilah untuk saya yang mungkin mirip ustadz hanya dari tampilan saja, sebagaimana kantong kresek yang dari bunyinya saja sudah menjelaskan keadaan kantong tersebut. Namun setidaknya saya bangga punya nama panggilan yang unik.

Kisah kami dimulai saat Ari Black yang ngekost-nya satu komplek dengan saya mengajak kami semua untuk menghadiri acara ulang tahun pacarnya di daerah Cijawura, Bandung Selatan. Ari mengajak kami karena pacarnya menyuruh agar Ari membawa teman-temanya karena ada banyak gadis-gadis teman pacarnya yang masih single yang juga hadir di acara ulang tahun itu. Singkatnya kami berangkat berempat dengan memakai dua motor, Ojeng dibonceng Arie sedang saya dibonceng Asgum. Dengan tidak ada halangan yang berarti kami berempat sampai di acara ulang tahun pacarnya si Ari Black itu. Bahkan kami semua diperkenalkan dengan gadis-gadis teman pacarnya. Acara yang cukup meriah bukan saja bagi Ari dan pacarnya, namun bagi kami semua yang sepertinya mendapatkan blind date. Baru kenal dengan seorang gadis, Ojeng sudah kelihatan akrab dan berduaan ngobrol di pojok rumah yang punya acara. Begitu pula Asgum sepertinya sudah tidak canggung lagi untuk mengeluarkan jurus-jurus rayuannya dalam menaklukan gadis. Memang teman saya yang satu ini boleh dikatakan punya bakat alami sebagai playboy(sorry bro saya buka kartumu!!). Sedangkan saya, demam panggung ditengah suasana pesta yang hingar bingar. Ngobrol basa-basi sekedar menanyakan nama atau pekerjaan. Selebihnya hanya menunduk dan pura-pura menikmati keriuhan pesta.

Tak terasa waktu sudah menunjukan jam satu dini hari, maka kami memutuskan untuk pulang ke kost-an. Namun kami tidak bisa pulang langsung berboncengan seperti saat berangkat, karena ada tiga gadis teman blind date kami yang mesti diantarkan kerumahnya atau kost-nya masing-masing. Setelah berunding maka diputuskan Asgum yang kebagian mengantarkan semua gadis kerumahnya atau kost-annya. Karena tempatnya ada yang cukup jauh, maka Ari Black memutuskan untuk membonceng kami berdua, saya dan Ojeng dalam satu motornya sambil menunggu Asgum menyusul. Maka dengan santai dan sambil ngobrol kami bertiga berboncengan pulang sambil menunggu Asgum nanti menyusul di jalan. Kecepatan kami mungkin hanya lima kilometer per jam saat memasuki jalan by pass satu arah, jalan Soekarno-Hatta menuju arah Cibiru. Dengan mengambil lajur paling kiri kami berkendara sambil merokok dan ngobrol ngaler ngidul terutama membicarakan tentang gadis-gadis yang baru kami kenal itu.

Sekitar seperempat jam lamanya kami berjalan pelan bertiga dalam satu motor, Asgum belum juga ada muncul menyusul. Makin lambat pula kami menjalankan motor agar Asgum tidak terlalu jauh menyusul. Dan tanpa diduga saat kami ngobrol tiba-tiba tanpa kami ketahui sebuah mobil patroli polisi dengan sirine nyaring menyalip dan berhenti persis didepan kami. Deg,…. kami terkejut, bahkan Ari Black yang dikenal tenang dan lihai membawa motornya kelihatan terkejut. Namun dia sempat juga berusaha membelokan motornya berbalik arah. Suara peluit nyaring terdengar disusul satu bentakan keras. “Berhenti…kalian kami tilang, kalian kami tangkap !!!”, seorang polisi segera meloncat turun dari kendaraannya dan menuju arah kami. Aku yang duduk paling belakang secara spontan berkata,”kabur Ri, cepet berbalik, bahaya nih, bisa bisa kita ditilang dan gak bisa pulang ke kost-an !!“. Dengan panik akhirnya kami berhasil berbalik arah menghindari kejaran pak polisi. Namun langkahnya yang cepat dan keadaan kami yang berkendara berbalik arah pada jalur satu arah cukup membuat kami sepertinya tidak akan bisa cepat menghindari kejaran pak polisi ini. Belum lagi mobil patroli itu kelihatan mulai membelokan arahnya pada lajur sebelahnya untuk mengejar kami. Melihat situasi ini tiba-tiba saya secara tak sadar meloncat dari jok motor  sambil berkata pada Ari dan Ojeng, “Ri,,,,,kalau bertiga pasti kita akan terkejar, lebih baik saya lari sendiri, kamu berdua bawa motornya lari masuk gang, kabur menuju arah Binong!!”.

Tanpa menengok lagi aku segera berlari sekuat tenaga dengan nekad menyebrang jalan dulu, dengan harapan Ari dan Ojeng bisa lebih cepat memacu motornya untuk kabur, dan aku bisa lari sendiri tanpa dikejar pak polisi yang sangat marah melihat kami malah kabur. Sial, bukannya meneruskan mengejar Ari dan Ojeng, pak polisi itu malah berlari menngejarku. Kudengar satu letusan keudara, saya sangat takut namun lebih takut untuk ditangkap. Walaupun saya bukan penjahat, namun saya tidak bisa membayangkan seandainya nanti ditangkap, selain kesalahan karena berkendara bertiga dan tidak memakai helmet, tentunya berusaha kabur malah akan memberatkan kami. Kutengok kebelakang, jarak antara saya dan polisi itu sekitar dua puluh meteran. Membayangkan bogem mentah dan hukuman membuat saya nekad untuk terus berlari sekuat tenaga menyusuri trotoar. Dalam panik dan nekad saya masih sempat berfikir untuk nekad menyebrangi parit di samping trotoar dan kabur kearah pesawahan yang gelap, sebab kalau terus menyusuri trotoar mungkin malah akan membuat saya mudah kelihatan, belum lagi didepan sana sekitar lima puluh meter lagi ada supermarket yang walaupun sudah tutup namun didepannya terang benderang. Akhirnya tanpa pikir panjang lagi saya nekad melompati sebuah parit kering yang cukup lebar.

Bruk…. rupanya lompatan saya tidak mencapai seberang. Saya terguling dan terjerembab masuk parit yang cukup dalam dan gelap. Beruntung parit itu kering dan saya tidak mengalami cedera yang berarti. Segera saya bersembunyi di bawah parit dan dengan perlahan mengendap berbalik arah menuju arah polisi yang mengejar. Kedengaran suara langkah kaki polisi yang mengejar saya dan suara sirine mobil yang juga melewati tempat saya sembunyi. Sekitar sepuluh meter dari tempat saya sembunyi kelihatan polisi itu seperti sedang mencari-cari saya, kemudian terus berlalu menjauhi saya. Plong…. dada saya sedikit tenang, namun saya belum berani keluar dari parit itu. Sambil membersihkan kotoran dan luka ringan pada kaki dan tangan, saya menunggu kira-kira sejam di dalam parit sebelum memutuskan untuk keluar dan segera naik angkutan kota menuju kostan saya. Dengan masih dipenuhi rasa takut akhirnya kurang lebih setengah jam kemudian saya bisa nyampai juga ke rumah kontrakan. Kebetulan Ari dan Ojeng belum pulang, begitu pula Asgum, entahlah apa yang terjadi pada mereka.

Beberapa orang penghuni di komplek kontrakan ada yang masih belum tidur saat saya pulang. Ada yang sedang bermain remi, maklum malam itu malam minggu. Mereka kelihatan terkejut saat saya pulang sendirian dengan keadaan yang kucel dan kotor. Namun saya tidak menceritakan kejadian barusan. Saya buru-buru membersihkan diri dulu dikamar mandi. Setelah selesai baru saya menceritakan kejadian tersebut. Semuanya bengong seperti tidak percaya.
“Bener kamu gak ketangkep polisi?” seru Mas Joko tetangga kontrakan yang jadi Satpam di pabrik sebelah. “Ah…jangan jangan kamu punya ilmu gaib sehingga gak kelihatan!”, kata si Bobby Sukardi teman saya satu komplek lagi. Saya hanya tertawa dan tidak berkomentar banyak.
Tidak berapa lama kemudian Ari, Ojeng dan Asgum datang hampir bareng. Mereka terkejut dan merangkulku, menanyakan kabarku dan merekapun bercerita betapa khawatirnya mereka akan nasib diriku. Selain itu mereka menceritakan kisahnya tentang saat kabur mereka yang kebetulan bisa selamat karena mereka lari melalui gang dan jalan tikus. Justeru mereka menyangka saya telah tertangkap dan mereka pun pasti akan terbawa.

“Wah, syukur deh…sungguh luar biasa kamu bisa selamat, aku kira kamu ditangkap polisi itu. Saya dan Ojeng sampai bingung sebab pasti kalau kamu tertangkap kita juga akan ikut tertangkap”, kata Ari Black ikut nimbrung.Kamu lari kemana tadi?, padahal aku fikir tidak ada tempat untuk bersembunyi selain pesawahan yang terhalang gerbang perumahan”, Asgum menimpali. “Aku mau lari ke sawah tapi keburu jatuh ke parit, nekad saja aku bersembunyi di parit dan kebetulan pak polisi tidak menemukan aku”, jawabku singkat. “Terima kasih kawan,,, berkat tindakan kamu tadi, kita semua bisa selamat, sungguh aku hampir gak percaya”, kata Ojeng sambil memeluk saya. “Gudrill...baik dan nyata, aku juga sampai gak percaya bisa selamat!!” kataku spontan. “Wah…mulai sekarang kamu kupanggil Gudrill.., setuju kawan-kawan?!!!!” kata Asgum berteriak sambil melirik teman-teman yang lain. “Mari kita syukuran atas kejadian tadi dengan bakar ayam… Jeng beli ayamnya ke pasar Gedebage!!”, Ari Black berteriak lantang sambil memberikan kunci motornya pada Ojeng.

Setelah kejadian itu pamor saya langsung naik kencang, dan panggilan Gudrill akhirnya melekat pada saya. Dan yang lebih aneh teman-temanku sekarang jadi segan dan menghormati saya. Bahkan akhirnya takdir membawa saya untuk memimpin teman-teman pekerja dengan menjadikan saya sebagai ketua Serikat Pekerja (Labour Union) di perusahaan tempat bekerja. Namun kejadian tadi hanyalah satu kejadian yang diluar dugaan dan hanya karena insting yang kuat untuk menyelamatkan diri. Setelah menjadi pengurus labour union tentunya saya benar-benar harus memperlihatkan jiwa sebagai pemimpin dan mengabdi untuk memperjuangkan rekan-rekan pekerja dengan tulus. Bukan dengan insting dan sekedar modal nekad.

sekedar bahan renungan :
1.  Bahwa kadang-kadang dalam keadaan kepepet atau menghadapi pilihan yang sulit seseorang akan bertindak diluar nalarnya. Mungkin akibatnya bisa baik atau bahkan     lebih buruk. Namun yakinkan bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan yang mungkin kita tidak punya.
2.  Kejahatan kecil yang berusaha ditutupi dengan kejahatan kecil lainnya bisa jadi menjadi sebuah kejahatan besar.
2.  Kepercayaan itu sangat sulit diperoleh, maka jika kita mendapat kepercayaan dari orang lain jagalah kepercayaan itu dengan baik, dan teruslah menambah ilmu untuk meningkatkan wawasan agar kita bisa mengelola kepercayaan itu dengan manajemen yang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: