Cerpen :WIDYA (Gadis Manis Penakluk Playboy Pabrik)

Cerpen Humor/Satir : Geronimo”isuga” Gudrill.

WIDYA (Gadis Manis Penakluk Playboy Pabrik)

Entah kenapa udara malam yang dingin ini tidak membuatku nyaman dan segera tidur. Kulepaskan selimutku dan bangkit dari kasur, menyalakan kembali lampu kamar setelah sebelumnya hanya menyalakan lampu tidur yang redup. Kulihat jam dinding telah menunjukan pukul setengah dua. Suara tiang listrik yang dipukul petugas ronda malam terdengar sayup, hanya satu kali kemudian sepi lagi. Hanya suara daun-daun dari pohon palem didepan rumah kontrakan kedengaran berderik ditiup angin yang sedikit kencang, kemudian sepi lagi. Harusnya saat ini aku sedang pulas atau sedang dibuai mimpi seperti hari-hari sebelumnya. Menguap dan duduk diatas ranjang yang sedikit bergoyang karena menahan tumpuan berat badanku atau mungkin memang ranjangnya sudah tua dan reyot, maklum ranjang kayu yang sudah mengisi kamar ini belum diganti walau entah sudah berapa orang yang pernah mengisi kontarakan ini. Hanya kasurnya memang sudah ku ganti beberapa bulan lalu karena sudah terlalu lapuk dan kebetulan ada temanku yang menjual kasur busanya dengan harga murah. Beberapa kali menguap namun kantuk belum juga menyerangku. Kuhabiskan air putih dalam gelas yang tinggal setengah lagi. Lumayan sedikit segar dan sepertinya sebagian beban yang menggelayut di dalam kepalaku menghilang. Tapi badan yang terasa lelah setelah siang tadi bekerja cukup keras menyelesaikan order yang mendadak dari manajer produksi di perusahaanku tempat bekerja yang terkenal galak tetap tak membuatku bisa memejamkan mata.

Dari jam sebelas tadi sebenarnya aku sudah siap tidur dan berbaring diatas ranjang ini setelah bosan nonton teve yang melulu diisi dengan sinetron atau filem yang sudah lecek dan gosip murahan selebritis. Berharap segera tidur dan bangun pagi dengan tubuh segar. Berangkat kerja dan mengisi hari-hariku dengan hal yang tidak menjemukan. Menelpon Veni kenalan lamaku, mengirim SMS sedikit mesra pada Leni atau misscall ke Deti dan pasti tak akan lama lagi menelponku bermenit-menit sekedar menceritakan pakerjaannya yang menjemukan sampai menceritakan tentang cowok-cowok teman kerjanya yang menyebalkan. Belum lagi Dewi cewek teman sekantor yang selalu memaksa untuk makan siang bareng. Sedikit agresif memang cewek bagian akunting ini terlihat dari cara ia berbicara padaku, tapi bagiku tak masalah dan kadang hal itu malah menambah kebanggaanku sebagai lelaki. Girls around me, selalu tiada hari tanpa gadis dalam kehidupanku. Warno lelaki teman kerjaku bahkan terus terang merasa iri padaku, berbagai cara ia gunakan hanya untuk bisa kenal dekat dengan Meti. Tapi malah dalam satu kesempatan Meti memaksa untuk pulang bareng dan mau dibonceng Vespa tua senjata andalanku, hanya karena menghargai Warno aku tidak terlalu memanfaatkan gadis seksi sedikit kampungan ini menjadi salah satu cewekku. Seorang teman kerjaku yang lain Endro, lelaki tampan mirip Primus pemain sinetron bahkan pernah mengatakan padaku jangan-jangan aku mempunyai ilmu pelet atau mempelajari ilmu klenik untuk menaklukan cewek. Menurutnya wajahku tidak ganteng, postur tubuhku tidak tegap dan otakku tidak terlalu encer, walau tidak bodoh-bodoh banget mengingat aku bisa bekerja dibagian yang cukup penting di perusahaan ini. Tapi ia heran karena begitu mudah aku mendapatkan cewek, bukan hanya satu tapi berganti-ganti dan gak terhitung, katanya sambil memperlihatkan semua jari tangannya di mukaku. “Sampai saya mesti hati-hati bila mendekati cewek, jangan-jangan bekas kamu atau jangan sampai aku kenalin ke kamu, bisa-bisa berpindah tangan jadi boncenganmu!” ujarnya lagi sambil tertawa. Aku hanya nyengir sambil bergurau mengatakan bahwa aku sudah diberkahi dan ditakdirkan untuk menjadi penakluk cewek-cewek cantik. Tentu sebenarnya bukan hanya itu modalku, sebagai lelaki pecinta sejati lawan jenis aku telah mengasah bakatku dan menambah ketajaman feelingku dalam menarik simpati cewek. Dari mulai buku puisi karya Kahlil Gibran, koleksi buku Puisi karya…., buku 1000 taktik menaklukan hati wanita cantik, majalah remaja, buku primbon, buku palmistry, buku 1005 kelemahan cewek, pokoknya semua buku yang berhubungan dengan cewek pasti kubeli.

Masih belum ngantuk juga padahal entah sudah berapa kali aku menguap. Sementara jarum pendek di jam dinding kamarku sudah bergeser satu angka. Otakku masih terus berkelana menjelajah alam lamunanku. Ada keresahan yang bergelayut menunggu jawaban dari ruang benaku yang lain. Dughh…. seperti ada yang menghantam ulu hatiku ketika aku ingat sesuatu, tepatnya seseorang. Ya… beberapa hari yang lalu saat makan siang sendirian diluar aku tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis cantik berjilbab yang kebetulan mau makan juga. Akhirnya aku dapat berkenalan dengan gadis yang ternyata bernama Widya, setidaknya itulah katanya saat kusodorkan tangan untuk berkenalan. Tak kusangka gadis pemalu yang bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah pabrik tidak jauh dari perusahaanku itu seperti jinak-jinak merpati. Tak seperti gadis lain yang begitu gampang kuajak jalan atau nonton filem, Widya menolak dengan cara yang halus. Dan aku jadi penasaran bukan saja oleh penolakannya tapi ada rasa yang lain yang muncul begitu saja dan berbeda dengan semua cewek yang pernah ku pacari atau menjadi teman dekatku bahkan cewek yang menjadi teman sedikit mesraku. Berbeda pula dengan perasaanku pada Reny cewek manja wakil manajer personalia, sungguh tidak sama dengan Resti cewek yang masih sekolah dan sering minta dibuatkan puisi padaku. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada Widya, cewek sederhana yang baru sekali bertemu ini. Dan itu terasa aneh bagiku.

Tiba-tiba ada hal lain yang menyentuh sisi jiwaku, dan baru terpikir saat ini. Sesuatu yang unik telah terjadi dalam rentang kehidupanku. Dan mungkin sangat jarang orang mengalaminya. Sungguh bila ada bukti tertulis aku berpikir diriku pantas masuk Guinnness Book of Records atau setidaknya tercatat di Musium Record Murinya Jaya Suprana. Sungguh baru kusadari ternyata semenjak aku mulai mengenal cinta terhadap makhluk yang bernama cewek, sejak cinta monyet sampai cinta gombal, semuanya mempunyai kemiripan yang identik bahkan sama. Ya…. sekali lagi baru kusadari bahwa semua cewek itu baik yang masih ku pacari atau telah menjadi mantan pacarku jelas semuanya berakhiran hurup I atau setidaknya kalau dibaca akan berbunyi i walau berakhiran konsonan Y. Selain yang tadi kusebutkan, telah banyak cewek lain yang pernah mengisi daftar manisku. Ada Tuti, Teti, Santi, Melani, Yuni, Ai, Cici, Ani,Yati, Siti bahkan untuk nama-nama berbau modern seperti Pretty, Ketty, Hany, Hesty, dan Tiffany pernah menjadi pacarku. Jadi jangan terkejut kalo pacar atau isteri anda yang punya nama hampir sama atau berakhiran hurup seperti yang kusebutkan, mungkin mengenalku atau bahkan pernah jadi pacarku.. …. hehehehehe. Hampir semua tipe cewek pernah kupacari. Dari yang cerewet, pendiam, manja sampai yang jual mahal pernah kutaklukan. Dari yang hitam manis, sawo matang, kuning langsat, sampai putih pucat pernah ku gaet. Tapi jangan coba tanyakan soal rasa mencium gadis dengan tipe dan warna kulitnya. Jangan pernah tanyakan lebih dari itu, karena aku tak mau ceritaku berisi hasutan pemacu birahi atau seks murahan seperti yang diam-diam anda buka atau unduh di internet. Dan anehnya sangat jarang kalau tidak dikatakan enggak sama sekali untuk cewek yang berakhiran selain i atau konsonan selain y. Pernah Lidya gadis manis pemilik lesung pipit itu sampai menangis karena ku tolak untuk sekedar masuk dalam kelompok belajarku waktu SMA, dan Gita gadis yang menjadi favorit di kampus harus gigit jari karena di cuekin waktu dia ngajak nonton dan menjemputku dengan mobil mahal punya ayahnya. Dan semua keunikan serta keanehan itu kini akan lenyap karena satu nama, WIDYA. Dan mungkin sudah menjadi takdir hal ini terjadi dan kusadari disaat aku seminggu lagi akan berulang tahun. Tepat… seminggu lagi aku kan merayakan hari jadi ku yang ke 30. Biasanya aku akan merayakan bersama semua temanku, baik cowok ataupun cewek, dan akan ada perayaan istimewa setelahnya, bersama cewek-cewek pacarku atau cewek teman lumayan mesraku, tentu saja bergantian dan pakai cara yang jitu agar tidak terjadi cemburu dan perang jambak-jambakan cewek karena cemburu. Dan selama ini semuanya selalu sukses ku jalani.

Kulirik kalender bergambar Luna Maya yang tanpa Ariel tentunya. Kuyakinkan kembali tanggal dan bulan ulang tahunku. Kuhitung kembali umurku. Ada sedikit kekhawatiran yang menyeruak dalam hatiku. Kini sebentar lagi dalam hitungan beberapa hari kedepan usiaku akan menginjak tepat tiga puluh tahun. Usia yang cukup rawan bagi sebagian laki-laki single. Teman-teman ku di kampung hampir semuanya sudah menikah dan mempunyai anak. Dan hampir semua teman kerjaku sudah menikah, kalaupun masih ada beberapa orang termasuk Endro dan Warno tapi setidaknya mereka sudah punya pacar tetap atau calon isteri. Sedangkan aku yang banyak dikelilingi cewek dan pacar sebenarnya masih belum yakin dan pasti akan apa yang ku perbuat. Karena sepertinya semua itu hanya sekedar untuk menjaga imej ku saja agar tidak dikatakan jomblo. Namun perasaan cinta ku yang sesungguhnya tumbuh pada saat ini dan hanya pada satu nama yaitu WIDYA. Aku berjanji akan mengakhiri semua kekonyolan ini dan akan kuberjuang mati-matian untuk mendapatkan Widya. Lega rasanya akhirnya mengetahui semua ini. Akan kuakhiri petualanganku sebagai playboy pabrik dengan satu kado manis. Dan itu hanyalah berupa sesosok Widya. Rasa kantuk akhirnya menyerangku menjelang dinihari.

Sedikit mengantuk rasanya saat bekerja hari ini. Namun kesibukan dan secangkir kopi kental telah membuat semuanya berjalan dengan baik. Pada Endro dan Warno kuceritakan bahwa sekarang aku telah menemukan seseorang yang akan kuperjuangkan untuk menjadi isteriku. Belum kuberitahu pada mereka siapa cewek yang menjadi target ku, namun Endro dan Warno hanya tertawa. “Aku sungguh-sungguh kali ini sobat, aku telah memikirkan hal ini semalaman. Sebagai bukti kesungguhanku akan ku umumkan secara resmi pada semuanya termasuk semua pacar dan mantan ku pada saat syukuran ulang tahunku nanti” kataku dengan raut yang serius. Endro dan Warno terkejut juga mendengar kataku kali ini. “,Syukurlah sobat, rupanya pintu tobat telah terbuka, aku tunggu buktinya!” kata Endro sambil menjabat tanganku. Lalu kuceritakan rencanaku pada mereka dan mengharap mereka membantuku nanti pada saat syukuran ulang tahunku.

Hari-hari yang super sibuk dalam minggu ini, tidak saja menyangkut pekerjaanku tapi juga menyangkut segala urusanku termasuk urusan dengan pacar-pacarku dan tentunya urusan dengan Widya. Walau tidak drastis aku mulai bisa mengubah sikapku pada semua cewek yang menjadi pacar atau sekedar teman dekatku. Sedikit-sedikit ku perlihatkan niatku baik dengan perkataan maupun cara memperlakukan mereka. Ada yang curiga, ada yang cemburu, ada yang menerima bahkan ada pula yang marah. Tapi aku tak perduli dan kuterima semuanya dengan lapang dada. Tapi tidak dengan Widya, aku malah lebih meningkatkan intensitas pendekatanku. Segala jurus dan mantra rayuan ku keluarkan. Hampir semua SMS ku berisi puisi-puisi cinta untuk Widya. Dan akhirnya semua perjuangan ku ada hasilnya. Widya akhirnya luluh dan menerima cintaku. Walau Widya menantangku untuk datang kerumahnya dan mengatakan kesungguhan cintaku pada ayahnya yang mantan preman Cimahi. Sungguh suatu kebahagiaan yang tidak pernah kurasakan sebelumya menyangkut cewek. Kukatakan pada Widia jangankan hanya berbicara pada ayahnya, bahkan aku siap melamarnya. Dan aku sungguh-sungguh untuk hal ini.

Acara yang cukup meriah untuk ukuran bujangan seperti aku. Dengan menempati sebuah ruangan khusus di sebuah rumah makan khas Sunda, Endro, Warno dan beberapa teman kerjaku hadir. Ada yang lebih mencengangkan dengan hadirnya hampir semua cewek yang sedang kupacari atau dekat denganku serta cewek yang pernah jadi pacarku, kecuali Widya tentunya. Sengaja Widya tak kuundang karena aku akan kerumahnya esok hari setelah acara ini. Atas bantuan Endro dan Warno pula lima belas cewek berakhiran i atau y itu berhasil hadir dalam acara ulang tahunku. Setelah semua prosesi kujalani setelah tiup lilin dan pemotongan kue tart aku meminta waktu untuk berbicara. Semua yang hadir terdiam menunggu suaraku. Kukatakan semua isi hatiku pada semua yang hadir. Tak lupa aku minta maaf pada semua cewek yang pernah dan sedang kukecewakan. “Teman-temanku semuanya terutama cewek-cewek yang sangat aku sayangi, walau berat tapi akan kukatakan yang sejujurnya, sungguh bukan maksudku untuk mempermainkan kalian, atau memanfaatkan kelemahan kalian, sungguh cinta tidak dapat dipaksakan, selama ini aku sendiri tidak yakin apa yang telah kulakukan selama bertahun-tahun pada kalian, akhirnya aku tahu akan makna bahwa cinta tidak selalu harus memiliki, mungkin kesalahanku pada kalian adalah obsesi alam bawah sadarku untuk mendapatkan cinta dari semua cewek yang berakhiran hurup i atau y. Demi kebaikan semuanya kini akan kuakhiri kesalahanku ini. Apapun reaksi kalian akan kuterima“. Semuanya terdiam tak bersuara, mungkin terkejut atau salut akan sikapku. Makin bersemangat aku melanjutkan,”kini aku telah menemukan cinta sejatiku, seorang gadis yang bernama WIDYA, dan ini kuharap cinta terakhirku, bukan karena dia tidak berakhiran i atau y seperti kalian, tapi ini murni kebetulan, karena ku yakin cinta sejati tidak mengenal hurup akhir!!, walau begitu aku bersumpah pada kalian, jika ternyata aku tidak sungguh-sunguh dengan Widya atau ketahuan mencari cewek lain yang berakhiran i maka semua permintaan kalian apapun itu akan kulakukan!!!“. Sesaat hening tak ada sahutan sebelum Endro tiba-tiba nyeletuk,” Aku salut akan sikap mu sobat, dan bila kau ingkar janji maka kau harus rela memeberikan gajimu selama tiga bulan berturut-turut untuk traktir kami“. “Setuju…., Deal.!!!“, terdengar suara yang lain. Belum sempat aku menjawab lagi tiba-tiba Tuti berkata lantang,”okey,,, aku terima kenyataan ini dan tak akan membencimu walau terasa sakit, namun bila kau ingkar janji maka kau harus berani bersumpah untuk tidak menikah kecuali dengan aku!!“. Aku menerima semua tantangan dan berjanji untuk membuktikan semua ucapanku.
hot beach
Hatiku lega, ternyata semua masalahku hampir beres. Tinggal satu yang masih mengganjal di hati. Membuktikan pada Widya kesungguhan cintaku. Maka tanpa menunggu lama esok harinya sepulang kerja aku langsung menjemput Widya dari tempat kerjanya dan kubonceng menuju rumahnya di daerah Cimahi. Menjelang Maghrib aku sampai kerumahnya di sebuah gang sempit tidak jauh dari jalan besar. Diterima oleh ibunya yang ramah menyambutku dan mempersilahkan aku masuk. Tak kulihat bapaknya yang katanya mantan preman di daerah sini, membuat sedikit tenang dan berharap jangan dulu muncul sebelum aku dapat menguasai keadaan. Yah sesungguhnya entah kenapa tidak seperti kebiasaan yang sering kujalani, datang ke keluarga Widya dengan satu tujuan pasti membuatku cukup tegang. Ujian pertama kulalui dengan lancar yaitu menjadi imam salat maghrib di rumah Widya karena memang tidak ada lelaki lain dirumah, dan baru ku ketahui kalau ayah Widya sudah dari tadi ke masjid untuk berjamaah salat. Selesai salat aku duduk diruang tengah bersama Widya dan ibunya dengan sedikit obrolan ringan pemecah keteganganku. Tak berapa lama terdengar suara lelaki membaca salam dengan suara berat, dan ternyata ku yakin itu ayahnya Widya. Berbadan besar dengan jambang dan kumis lebat. Dan yang membuat sedikit ciut nyaliku melihat guratan-guratan kasar di wajahnya menandakan bahwa kehidupan masa lalunya cukup keras, itu hanya dugaanku. Setelah bersalaman dan memperkenalkan diri serta sedikit basa-basi aku duduk dihadapan ayah Widya. Sungguh tak kusangka ternyata ayah Widya sangat ramah kepadaku. Dia malah mempersilahkanku untuk mencicicipi sekedar penganan kecil yang katanya dibuat oleh Widya.

Sejurus kemudian Pak Wahyu memberi isyarat kepada yang hadir untuk menyimak sesuatu yang akan dia katakan. Aku yang sudah tidak sabar segera memperbaiki duduk dan mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi ini. Dengan suara yang berat namun berwibawa ia berkata, jelas lebih ditujukan padaku,”Terima kasih atas kedatangan nak Andi yang telah sudi menginjakan kaki di gubuk kami, walau belum begitu jelas namun beberapa hari yang lalu anakku telah menceritakan tentang adanya teman dekatnya yaitu nak Andi ini, mohon maaf bila keadaan kami jauh dari harapan, dan mohon jangan terkejut bila kami telah lancang untuk menanyakan maksud dan tujuan nak Andi selain bersilaturahmi kesini“. Sejenak aku menarik napas untuk mengatur irama suaraku agar tidak kelihatan grogi,”Terima kasih kembali atas penerimaan keluarga disini yang sungguh membuat saya menyadari betapa pentingnya nilai sebuah keluarga, dan tujuan saya adalah untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga luarbiasa ini, kemudian sebuah kewajaran bila saya yang saat ini menjadi teman dekat Widya untuk meminta izin pada keluarga disini dengan harapan bisa melanjutkan hubungan ini kepada tahap yang lebih serius, dengan kata lain saya meminta izin kepada Bapak dan keluarga disini untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadikan Widya sebagai calon isteri saya“. Sungguh saya sendiri tidak percaya dapat mengeluarkan jawaban yang begitu berani.

Sungguh bapak salut akan keberenanian dan niat tulus nak Andi, saya sebagai orang tua tentu saja menyerahkan ini pada anak saya Wati, Widyawati, apa yang dia rasa baik tentu bapak yakin pula akan baik bagi kami, namun nak Andi mesti tahu dulu beginilah keadaan kami, keadaan Widyawati, kami hanyalah keluarga kecil sederhana“. Suara Pak Wahyu yang jelas-jelas merestui hubungan aku dengan Widya, sungguh membuatku bahagia, tapi… ada satu yang mengganjal dan ini bisa jadi sebuah dilema. “Sungguh saya bahagia atas penerimaan ini dan sebagaimana bapak ketahui dari Widya… begini pulalah keadaan saya, seorang hina yang mengharapkan kasih tulus dari seorang Widya…emmmhh maaf pak tadi bapak menyebut Wati atau Widyawati,,, jadi namanya adalah Widyawati?” walau kurang sopan aku memberanikan diri sedikit menyimpang dari topik. “Oh… mungkin nak Andi belum tahu atau Widyawati belum bercerita, Widya adalah anak kami satu-satunya, waktu kecil kami beri nama Wati, sungguh dia adalah mustika, permata bagi kehidupan kami, kelahiran dia telah membuat kehidupan kami berubah. Dan diakte kelahirannya kami tambahkan Widya didepannya sehingga menjadi Widyawati, kadang kami panggil Widya ataau Wati“. Perkataan Pak Wahyu yang panjang lebar bukan hanya membuatku jadi terkejut, namun juga membuat pandangan didepan ku jadi berputar, tak kudengar lagi perkataan selanjutnya, tak kulihat Widya atau Widyawati yang tersenyum bahagia malam ini. Dan Aku membayangkan bagaimana malunya aku dihadapan Warno, Endro dan mantan-mantan pacarku….. Selain itu sanggupkah aku membiarkan gajiku tiga bulan untuk diberikan pada mereka?… dan yang lebih parah… bagaimana janjiku pada Tuti, apakah harus kutepati?.. hanya kebingungan yang muncul.., walau tak sebingung Pak Wahyu dan Widya yang melihat tingkahku saat ini…….
copyright,juni2010, saat hal kecil kadang terasa aneh …………❤

Saran, kritik dan komentar yang membangun agar lebih baik sangat kami harapkan.
Kesamaan nama tempat atau mungkin isi cerita bukan kesengajaan…. selalu sulit cari nama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: